Jumat, 05 Oktober 2012

Siapapun Bisa Menjadi Kaya (2)


Seperti dijelaskan pada artikel kami yang pertama bahwa batasan antara investasi dan spekulasi adalah tipis sekali, sering kali dalam melakukan investasi kita tidak memiliki batas minimal pertumbuhan dana yang kita inginkan, memang semua orang pasti senang dengan pertumbuhan dana yang sebesar-besarnya, namun alangkah bijaknya jika kita waspada.

Secara psikologis ada dua sifat yang kerap kali menghinggapi investor, yaitu takut (fear) dan tamak (greedy).

Menenentukan target pertumbuhan reksa dana.
Berdasarkan fakta yang ada, kita berpotensi menjadi takut ketika nilai investasi kita menurun atau modal kita menjadi sangat berkurang, sebaliknya kita berpotensi menjadi tamak ketika nilai investasi kita sedang meningkat secara signifikan.

Dalam kondisi sedang meraih untung, umumnya perasaan tamak terus menghantui sehingga dengan mudahnya investasi terus ditambah (kondisi high return high risk pun terlupakan) harapannya adalah mendapat keuntungan yang sebanyak mungkin. Jika ternyata untung maka kita tersenyum, namun sebaliknya jika rugi, hmm, tentu sangat menyesakkan hati. Nah pada kondisi seperti itulah investasi berubah menjadi spekulasi.

Sekali lagi untuk menghindari spekulasi dalam berinvestasi di sektor finansial, kita wajib menentukan 2 hal yakni:
1. Jangka waktu;
2. Target pertumbuhan minimal yang ingin dicapai.

Dengan melakukan dua hal di atas maka investasi yang dilakukan berada dalam jalur yang benar. Mengenai penjelasan penentuan jangka waktu telah dijelaskan pada artikel kami yang pertama.

Berikutnya untuk menentukan target pertumbuhan minimal, calon investor mutlak mengetahui pertumbuhan rata-rata dari reksa dana yang akan dipilihnya, di sini penulis membagi menjadi 4 (empat) kelompok besar reksa dana. Tabel berikut merupakan hasil olahan data dari seluruh performa reksa dana tersebut yang masih aktif di Indonesia:


Rata-rata pengembalian (return) reksa dana di Indonesia - data hingga 24 Agustus 2012
 
 
 
RDPU
RDPT
RDC
RDS
 
5.134%
12.401%
12.509%
16.225%
 
rata-rata 1 tahun
rata-rata 3 tahun
 
 
 Keterangan:
1. Reksa Dana Pasar Uang (RDPU);
2. Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT);
3. Reksa Dana Campuran (RDC);
4. Reksa Dana Saham (RDS);
5. Sampling data tingkat pengembalian (return) reksa dana (kecuali reksa dana pasar uang) diambil selama 3 tahun terakhir serta dihitung secara aritmatik menjadi rata-rata tahunan (data selama 3 tahun dibagi 3),data terakhir pertanggal 24 Agustus 2012.

Untuk lebih jelasnya kami memberikan contoh berikut dari seorang investor yang melakukan investasi di sektor finansial:
Seorang bapak berusia 30 tahun memiliki kebutuhan untuk meningkatkan kekayaannya sebagai berikut:
1. Ingin memberikan warisan kepada anaknya ketika kelak berusia 25 tahun sebesar minimal Rp 800 juta, usia anak saat ini 2 tahun;

2. Ingin memiliki modal usaha sebesar Rp 450 juta, 10 tahun dari sekarang.
Saat ini sang bapak memiliki deposito senilai Rp 25 juta yang dibagi menjadi Rp 10 juta untuk warisan dan Rp 15 juta untuk usahanya kelak.
Nah untuk mencapai keinginannya maka sang bapak wajib melakukan:
• Perhitungan investasi yang harus dilakukan setiap bulannya agar kebutuhan No. 1 dan No. 2 dapat tercapai, adalah sebesar:
o Rp 132.000 selama 23 tahun agar tersedia dana sebasar Rp 800 juta;
o Rp 1.250.000 selama 10 tahun agar tersedia dana sebesar Rp 450 juta;
o Jadi total dana yang harus di investasikan pada reksa dana setiap bulan dalah sebesar Rp 1.382.000.
Agar mudah silahkan melihat dalam bentuk tabel:
 
Untuk Warisan:
Jumlah yang sudah tersedia saat ini
 
 
 Rp                   10,000,000.00
Waktu yang tersedia untuk investasi
 
 
23 Tahun
Target investasi Anda 23 tahun yang akan datang
 
 
 Rp                 800,000,000.00
Target hasil investasi (minimal per tahun)
 
 
16.225%
Pajak (per tahun)
 
  
0.00%
Target hasil investasi bersih (minimal per tahun)
 
 
16.225%
Besar investasi Anda setiap awal bulan
 
 
 Rp                       131,919.30
 
Untuk Modal Usaha:
Jumlah investasi Anda saat ini
 
 
 Rp                   15,000,000.00
Waktu yang tersedia untuk investasi
 
 
10 Tahun
Target investasi Anda 10 tahun yang akan datang
 
 
 Rp                 450,000,000.00
Target hasil investasi (minimal per tahun)
 
 
16.225%
Pajak (per tahun)
 
  
0.00%
Target hasil investasi bersih (minimal per tahun)
 
 
16.225%
Besar investasi Anda setiap awal bulan
 
 
 Rp                    1,246,700.92

 Catatan:
Perhitungan investasi di atas adalah berdasarkan hasil perhitungan dalam ‘Aplikasi TGRM untuk Menggapai Kekayaan’ (Aplikasi diberikan gratis kepada pembaca Kompas.com dengan cara melakukan add PIN BB 29788928 atau SMS ‘Aplikasi TGRM’ kirim ke 0816 132 4712).


Kemudian bagaimana kita dapat memilih produk dan perusahaan reksa dana dengan tepat?, berikut adalah beberapa hal yang harus dipertimbangkan oleh investor pemula:
1. Return atau tingkat pengembalian yang merupakan kinerja reksadana secara historis harus optimal, sesuai dengan tingkat risiko yang dihadapinya, contoh Reksa Dana Saham (RDS) lebih berisiko dibanding dengan Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT), namun Reksa Dana Pendapatan Tetap lebih berisiko dari Reksa Dana Pasar Uang (RDPU). Tolok ukur (Benchmark) return harus relevan dengan jenis reksadana tersebut, contoh:
• IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dengan RDS;
• Indeks Obligasi Pemerintah dengan RDPT;
• Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan RDPU
Jadi Anda dapat menanyakan kepada wakil agen penjual reksa dana tersebut mengenai tolok ukur versus kinerja reksa dana yang akan kita pilih tersebut.

2. Sharpe Ratio (SR), rasio ini berfungsi untuk mengukur konsistensi dari kinerja return dalam kurun waktu yang relatif panjang. Selain itu, Anda juga perlu menanyakan Standar Deviasi (SD). Secara awam SD adalah cerminan risiko di reksa dana tersebut secara historis, jadi SD semakin rendah berarti reksa dana relatif tidak terlalu berisiko, sedangkan SR semakin tinggi berarti kinerja relatif lebih baik. Jika ingin mengetahui lebih dalam mengenai metode Risk and Return, ini silakan dipelajari di sini: http://www.efmoody.com/investments/sharperatio.html

3. Untuk melihat tingkat kepercayaan nasabah ada baiknya membeli reksa dana yang dikeluarkan oleh Manajer Investasi (MI) yang telah mempunyai Dana Kelolaan atau Asset Under Management (AUM) 10 terbesar di Indonesia, silakan anda melakukan browsing via internet untuk mengetahuinya. Namun, ini bukan suatu hal yang mutlak karena AUM berbanding lurus dengan lamanya produk atau perusahaan tersebut beroperasional di Indonesia.

4. Biaya, perhatikan biaya masuk (subscription), biaya managemen, biaya switching (jika ada) serta biaya keluar (redemption). Biaya bukan sekedar pernik, tetapi dapat mempengaruhi pertumbuhan aset Anda secara jangka panjang.

Setelah kita mengetahui bagaimana memilih perusahaan dan produk reksa dana yang tepat maka langkah selanjutnya adalah melakukan implementasi atas perhitungan dan seluruh perencanaan serta analisa-analisanya.

Sebagai informasi implementasi reksa dana dapat dilakukan pada beberapa pintu masuk yakni:
1. Perusahaan Manajer Investasi secara langsung;
2. Bank sebagai Agen Penjual Reksa Dana.

Demikian pembaca yang bijak, tanpa implementasi investasi Anda tidak akan menjadi kaya karena seseorang akan menjadi kaya melalui investasi bukan sebaliknya kita menunggu menjadi kaya dahulu baru melakukan investasi. Selamat melakukan implemantasi investasi Anda.

(sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/09/13/07343530/Siapa.Pun.Bisa.Menjadi.Kaya.2)

Siapapun Bisa Menjadi Kaya (1)

Pembaca  yang bijak, Lebaran baru saja berlalu, pengeluaran uang dalam jumlah yang besar telah dilakukan. Setelah Lebaran usai, kini saatnya anda melakukan akumulasi kekayaan dengan tujuan agar pertumbuhan aset maksimal atau dengan bahasa sederhana kita membuat diri kita menjadi kaya! Anda mau?

Nah artikel berikut ini merupakan salah satu cara yang dapat anda lakukan agar bisa menjadi lebih kaya secara finansial. Paparan ini jika dilakukan dengan disiplin akan membuat diri anda berpotensi besar menjadi kaya. Ini berlaku bagi siapa saja tanpa memandang besarnya penghasilan perbulannya.

Sekali lagi yang terpenting anda mampu untuk melakukannya secara disiplin terhadap penghasilan anda setiap bulannya, jika tidak disiplin maka dapat dipastikan paparan ini tidak ada manfaatnya bagi pertumbuhan aset anda. Namun bagi anda yang mampu untuk disiplin secara konsisten maka potensi peningkatan aset keuangan anda sangat besar, marilah kita mulai secara bertahap.

Tahap 1 – Difinisi Kaya
Setiap orang memiliki difinisi yang berbeda terhadap ‘Kaya’, namun kami membatasinya dalam memandang kekayaan secara finansial saja, jadi di luar itu kami tidak membahasnya. Bagaimana dengan aset non finansial seperti kendaraan, rumah dan barang-barang lain?, untuk hal itu dipersilahkan untuk melakukan konversi teradap aset non finansial menjadi aset finansial (lakukan valuasi aset tersebut menjadi harga pasar wajar).

Baiklah, kita kembali kepada difinisi kaya: Kaya adalah suatu hasil pertumbuhan dari investasi yang telah dilakukan dan pertumbuhannya berhasil melampaui inflasi dari suatu negara di mana sang investor tersebut menetap.

Jadi berdasarkan penjelasan diatas maka seseorang tidak akan bertambah kaya jika dia:
• Tidak melakukan investasi;
• Melakukan investasi tetapi pertumbuhan hasilnya dibawah inflasi.

Marilah kita melakukan introspeksi secara objektif atas diri kita sendiri, sudahkah kita melakukan?:
• Investasi baik di sektor riil maupun sektor finansial?;
• Dalam melakukan investasi apakah kita sudah mengenal karakter profil resiko diri kita sendiri?, apakah kita termasuk dalam golongan konservatif, moderat atau agresif?

Demikian pembaca yang bijaksana, hal diatas adalah merupakan koridor pertama yang harus dilalui jika kita ingin merealisasikan pertumbuhan aset finansial secara signifikan. Untuk melakukannya wajib ada pengorbanan dari sisi keuangan. Pemasukan anda dibelanjakan dengan ketat demi masa depan keuangan yang lebih baik (bukankah anda ingin kaya kelak?).

Uang anda hanya untuk memenuhi kebutuhan rutin dan bukan keinginan rutin, sekali lagi bukan keinginan sehingga terjadi efisiensi minimal sebesar 10 persen dari pendapatan anda setiap bulannya. Dengan kalimat sederhana, pendapatan yang dapat digunakan hanya sebesar 90 persen.
Tahap 2 – Lakukan Investasi Bukan SpekulasiSetelah kita sisihkan minimal 10 persen dari pendapatan maka langsung investasikan dana tersebut. Sesungguhnya ada batasan tipis antara investasi dan spekulasi, begitu tipisnya ‘benang’ ini sehingga sering kali seseorang tidak menyadari bahwa ia sedang terjerumus dalam spekulasi.
Untuk menghidarinya, berikut ini bisa dijadikan rambu atau pedoman agar kita tidak terjerumus dalam jurang ‘spekulasi’. Dalam melakukan investasi di sektor finansial seseorang wajib untuk:
• Menentukan jangka waktu investasi yakni:
o Jangka pendek <=1 tahun, potensi hasil investasi rendah;
o Jangka menegah 1 <= 3 tahun, potensi hasil investasi sedang;
o Jangka panjang > 3 tahun, potensi hasil investasi tinggi.

Untuk menentukan jangka waktu cukup dengan mengetahui tujuan investasinya, misal investasi untuk pendidikan tinggi anak (usia saat ini 12 tahun), maka dana pendidikan tersebut diperlukan 6 tahun dari sekarang, berarti investasi yang dilakukan jangka panjang, dan lain sebagainya.

Sebagai catatan penting:
o Potensi hasil investasi bukan merupakan jaminan, maksudnya adalah hasil investasi dapat berada diatas ataupun dibawah dari hasil yang direncanakan;
o Investasi bisa mengalami pertumbuhan yang besar, sedang maupun kecil bahkan tidak mustahil dapat mengalami kerugian, investasi sangat berhubungan dengan resiko. Nah untuk mengeliminir resiko kerugian maka penentuan jangka waktu investasi menjadi sangat wajib;
o Jika ada investasi yang menjanjikan tingkat imbal hasil secara fix atau tetap maka berhati-hatilah, biasanya iming-iming pengembalian yang sangat luar biasa besar setiap bulannya (agar menarik calon investor). Untuk diketahui bahwa investasi dimanapun tidak bisa menjanjikan tingkat pengembalian yang tetap, mengapa?, karena investasi berkorelasi langsung dengan resiko. Jadi semakin besar potensi tingkat pengembalian maka semakin besar pula potensi resikonya. Berdasarkan data biasanya investasi yang seperti ini dapat dengan cepat menggerus modal anda hingga habis, ludes.

• Alokasikan uang anda pada kendaraan yang tepat
Berbicara investasi di sektor finansial maka berdasarkan hasil riset secara empiris bahwa alokasi aset memegang peranan terbesar (sekitar 90 persen) dalam hal pertumbuhan hasil investasi, sisanya adalah rumor (kabar angin) dan momentum (saat masuk dan keluar investasi), nah kalau hasil riset investasi di sektor finansial sudah membuktikan demikian maka saatnya kita memilih kendaraan yang tepat untuk investasi kita.
Kami merekomendasikan sebagai pemula sebaiknya alokasikan investasi anda di intrumen Reksa Dana, mengapa demikian?, karena kendaraan investasi reksa dana memiliki ‘supir yang berlisensi’, ya bagaikan supir kendaraan ia memiliki ijin atau lisensi dari Bapepam sehingga kendaraan tersebut relatif aman, asalkan kita tepat memilih kendaraan tersebut, nah bagaimana caranya?
Berikut adalah tahapan yang kami ilustrasikan untuk seorang investor reksa dana pemula:
lustrasi Tabel Alokasi Investasi untuk Investor
Jangka waktu
Tenor investasi
Saran kendaraan investasi
Bobot atas alokasi kendaraan investasi (%)
Konservatif
Moderat
Agresif
Jangka pendek
<= 1 Thn
Reksa Dana Pasar Uang (RDPU)
80
50
40
Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT)
20
45
50
Reksa Dana Campuran (RDC)
0
5
10
Jangka menegah
1 <= 3 Thn
Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT)
60
40
0
Reksa Dana Campuran (RDC)
40
60
100
Jangka panjang
> 3 Thn
Reksa Dana Campuran (RDC)
60
50
0
Reksa Dana Saham (RDS)
40
50
100
 Catatan penting:                  
Tabel ini hanya ilustrasi untuk pemula bukan merupakan keharusan        
Untuk lebih jelasnya silahkan melakukan konsultasi dengan Perencana Keuangan Anda     

Setelah kita mengetahui kisaran aset alokasi yang tepat, langkah selanjutnya adalah menentukan target pertumbuhan reksa dana, bagaimana caranya? Nantikan penjelasannya di artikel yang akan kami sajikan dalam waktu dekat.

(sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/08/28/0848329/Siapapun.Bisa.Menjadi.Kaya.1)

Alat Evaluasi Strategi Investasi

Menjelang pergantian tahun merupakan saat yang tepat untuk melakukan review atas semua aktivitas yang sudah dilakukan sepanjang tahun, termasuk aktivitas investasi. Berbagai kejadian baik positif maupun negatif pada akhirnya akan berimbas pada tingkat imbal hasil (return) investasi yang diperoleh oleh investor.
Berbagai pertanyaan kritis perlu dijawab agar investor benar-benar mengetahui apakah investasi yang ditanamkan telah berjalan efektif atau sebaliknya.

Beberapa pertanyaan yang bisa diajukan antara lain: Apakah imbal hasil investasi saya sudah cukup memadai? Seberapa efektifkah strategi investasi yang sudah dijalankan? Dari jawaban-jawaban yang diperoleh, investor akan tahu bahwa strategi investasinya masih berada di jalur yang benar atau tidak. Dengan demikian investor akan memiliki dasar yang kuat untuk mengambil keputusan investasi yang lebih baik di masa mendatang.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tentunya dibutuhkan suatu tolok ukur atau acuan yang obyektif sebagai pembanding terhadap tingkat imbal hasil dari kegiatan investasi yang sudah dijalankan.
Satu diantara alat ukur pembanding yang obyektif, tersedia di pasar dan dapat diakses oleh investor adalah indeks. Ya indeks, marilah kita bahas lebih dalam mengenai indeks dalam kaitannya dengan investasi.

Mengenal Indeks

Di dunia pasar modal dan keuangan kita mengenal istilah indeks harga saham, meski sebenarnya indeks bukanlah dimonopoli oleh pasar saham saja tetapi juga digunakan di berbagai pasar lain seperti pasar obligasi maupun pasar valas. Hal ini sebenarnya tidak mengherankan karena indeks pertama yang digunakan di bidang keuangan dan pasar modal memang indeks harga saham.

Adalah Charles H. Dow, seorang wartawan rubrik keuangan, yang menjadi orang pertama dalam memperkenalkan penggunaan indeks untuk memantau harga saham Amerika di tahun 1896. Indeks yang diperkenalkannya adalah cikal bakal dari indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA), sebuah indeks harga saham yang banyak diacu oleh para pelaku keuangan dunia hingga saat ini.

Indeks sendiri adalah indikator statistik yang menunjukan besar kecilnya perubahan dari suatu obyek tertentu. Indeks harga saham akan memberikan gambaran mengenai besar kecilnya perubahan harga di pasar saham dalam suatu periode tertentu. Gambaran mengenai seberapa besar pasar obligasi bergerak naik atau turun juga dapat diperoleh dengan mengamati besar kecilnya perubahan angka indeks harga obligasi.
Sebuah angka indeks dihasilkan dari serangkaian perhitungan yang mengkaitkan antara harga-harga hari ini dengan harga di hari sebelumnya, sehingga diperoleh gambaran bahwa harga hari ini lebih tinggi atau lebih rendah dibanding hari sebelumnya.

Biasanya nama indeks menjelaskan banyaknya instrumen keuangan yang diikutkan dalam perhitungan indeks tersebut, sebagai contoh perhitungan Indeks Harga Saham LQ45 yang diterbitkan Bursa Efek Indonesia beranggotakan 45 saham yang dianggap paling likuid di bursa saham, dan Indeks Harga Saham Kompas100 merupakan hasil perhitungan dari 100 saham yang dianggap paling menggambarkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia.

Dengan menggabungkan metodologi perhitungan indeks dengan pilihan instrumen pasar modal dan keuangan yang dimasukkan dalam perhitungan tersebut, maka indeks diharapkan dapat memberikan gambaran yang akurat tentang kondisi dan arah pergerakan pasar yang mutakhir dari suatu instrumen investasi.
Semua angka indeks selalui dimulai dari angka 100. Dengan demikian, dengan mengetahui angka indeks yang terakhir, dengan mudah Diketahui seberapa besar kenaikan atau penurunan nilai dari pasar yang digambarkan oleh indeks tersebut. Bila kita mengetahui bahwa Indeks Harga Saham KOMPAS100 ditetapkan pada angka 100 di tanggal 10 Agustus 2002 dan kita tahu angka indeks tersebut di tanggal 10 Agustus 2011 berada di tingkat 881,45, maka kita akan tahu bahwa harga saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia telah meningkat 8 kali lipat di sepanjang periode tersebut.

Contoh lain (lihat Ilustrasi 1), bila kita mengetahui bahwa Indeks Total Return Obligasi Korporasi IBPA ditetapkan pada angka 100 di tanggal 4 Januari 2010 dan kita tahu angka indeks tersebut di tanggal 23 Desember 2011 berada di tingkat 123.2311, maka kita akan tahu bahwa pasar obligasi korporasi Indonesia telah memberikan imbal hasil (return) bagi investornya sebesar 23,23 persen di sepanjang periode tersebut.

Indeks sebagai Acuan Evaluasi Investasi
Jadi, dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa indeks di dunia pasar modal dan keuangan adalah indikator perubahan yang memberikan gambaran tentang apa yang sudah terjadi pasar.
Dengan demikian kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan di awal tulisan ini. Berbekal Indeks, yang merupakan ukuran obyektif sebagai acuan atau pembanding dari hasil investasi yang sudah diperoleh, maka akan sukses atau tidaknya sebuah strategi investasi dapat diukur secara obyektif.
Contoh sederhana pengukuran dapat dilihat di Ilustrasi 2. Dalam tampilan grafik tersebut terlihat bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (garis warna biru) pada tanggal 23 Desember 2011 menunjukan angka +5 persen, atau bergerak dari angka indeks 3,217.95 pada 23 Desember 2010 dan berakhir di angka 4,195.72 di tanggal yang sama tahun 2011. Sementara di sisi lain, harga saham PT Telkom Tbk. (garis warna hijau) mengalami penurunan harga hingga hampir 10 persen.

Andaikan seluruh dana investasi milik seorang investor hanya dibelikan saham TLKM semata, maka bisa dikatakan investor tersebut mengalami kerugian ganda pada akhir periode tersebut. Kerugian yang pertama adalah bahwa nilai dana investasinya turun hingga hampir 10 persen. Sementara kerugian yang kedua adalah investor tersebut kehilangan kesempatan untuk meningkatkan nilai dana investasinya sebesar hampir 5 persen, bila dibelikan saham selain TLKM dalam periode tersebut.

Berdasarkan evaluasi di akhir periode di atas, dapat disimpulkan bahwa investor tersebut tidak berhasil dengan strategi investasinya. Bahkan bisa dikatakan sebagai “sudah jatuh tertimpa tangga” karena ia mengalami kerugian dari penurunan saham TLKM nya dan tidak menyadari bahwa ada saham-saham lain (diluar TLKM) yang harganya justru sedang naik dengan pesat. Suatu kondisi yang dapat dihindari apabila investor tersebut memahami cara memonitor investasinya dengan menggunakan indeks-indeks yang tersedia di pasar.

Indeks sebagai Alat Monitor Investasi
Investor dalam Ilustrasi 2 di atas sebenarnya jangan menunggu hingga akhir tahun untuk melakukan evaluasi atas aktivitas investasinya. Karena indeks juga merupakan indikator yang cukup efektif untuk membantu investor dalam memonitor investasi yang sedang dilakukan secara berkala.

Andaikan investor tersebut rajin mengamati indeks IHSG setiap bulan dan senantiasa membandingkan dengan harga saham TLKM yg dipegangnya di periode tersebut, maka ia akan sadar pertumbuhan investasi di saham TLKM pada tanggal 11 Maret 2011 sudah turun dn secara terus menerus di bawah rata-rata harga saham yang ditransaksikan di Bursa Efek Indonesia.

Di sisi lain, hingga tanggal 11 Maret 2011, IHSG terlihat terus naik secara konsisten. Kenaikan angka indeks itu menunjukan bahwa banyak saham-saham lain (selain saham TLKM) yang harganya justru tengah naik tajam.

Dengan berbekal informasi yang disajikan oleh indeks IHSG, maka investor tersebut dapat mulai mencari saham-saham lain yang menyebabkan indeks IHSG tersebut naik. Caranya adalah dengan mencari daftar saham-saham yang diikutkan dalam perhitungan IHSG, dan mengamati pergerakannya saham-saham yang berpengaruh besar terhadap pergerakan indeks IHSG tersebut.

Dari analisis terhadap saham-saham yang menjadi anggota dalam perhitungan indeks IHSG, investor tersebut akan menemukan saham-saham lain yang berpotensi memberikan keuntungan.  Dan bukan tidak mungkin investor tersebut dapat mengambil keputusan untuk menjual saham TLKM dan membeli saham lain seperti yang terlihat dalam Ilustrasi 3.

Dalam Ilustrasi 3, setelah pengamatan dan analisa mendalam terhadap saham apa saja yang sangat mempengaruhi IHSG, maka investor tersebut memutuskan menjual saham TLKM dan membeli saham ASII di bulan Maret 2011.

Setelah pembelian saham ASII, investor itu juga tetap perlu melakukan benchmarking (membandingkan) harga saham ASII terhadap IHSG secara berkala. Tujuannya adalah agar dapat mengantisipasi bila ada kejadian-kejadian yang mengharuskan investor tersebut untuk kembali mencari saham lain untuk menggantikan saham ASII.

Bila investor tersebut disiplin dalam melakukan evaluasi secara berkala tersebut. Maka pada akhir periode (23 Desember 2011), tidak saja investor tersebut terhindar dari kerugian ganda seperti yang digambarkan di Ilustrasi 2, bahkan sebaliknya investor itu memperoleh hasil investasi yang relatif sangat besar yaitu hampir mencapai 40 persen per tahun.

(sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/12/28/1028117/Indeks.Alat.Evaluasi.Strategi.Investasi)

Mempersiapkan Biaya Kesehatan Secara Optimal

Banyak diatara kita mungkin bertanya-tanya bagaimana saya dapat mempersiapkan dana kebutuhan kesehatan baik untuk berobat jalan maupun untuk rawat inap. Memang belum banyak artikel mengenai ini, biasanya anda akan langsung membeli produk asuransi jiwa yang sudah ada tambahan asuransi kesehatan didalamnya atau dikenal dengan riders.

Masih kondisi yang belum mengerti akhirnya kita setuju untuk membeli produk asuransi tambahan penyakit kritis. Tujuannya memang baik untuk melindungi jika kita terserang penyakit kritis, namun sesungguhnya kita harus lebih bijak untuk mengetahui apakah kita perlu membeli asuransi tambahan itu. Sementara biaya untuk membeli asuransi tambahan tersebut juga tidak murah.

Memang perlu diketahui khusus untuk biaya kesehatan besarnya adalah sangat bervariasi sampai saat ini masih tidak ada acuan yang jelas, sebagai contoh adalah penyakit Jantung (salah satu penyakit termahal) seseorang yang mengalami penyempitan pembuluh darah pada titik tertentu dan harus dilakukan operasi jantung dengan tujuan mengembalikan besaran dari pembuluh darah tersebut, berdasarkan data tahun 2011 yang didapat dari klien kami, biaya rata-rata untuk penyakit tersebut adalah berada pada kisaran antara Rp 5 juta hingga Rp 30 juta per harinya, biaya tersebut sudah termasuk biaya operasi jantung (kondisi standar tanpa komplikasi), ruang rawat inap (tergantung kelas), biaya kunjungan dokter, biaya obat pada saat rawat inap, biaya periksa atau kontrol kesehatah (darah, urine, dll) serta biaya peralatan kesehatan lain yang dibutuhkan diantaranya adalah oksigen, dll.

Pembaca yang bijak kisaran biaya untuk biaya kesehatan pada kasus diatas memang sangat besar, secara sederhana biaya tersebut tinggal dikalikan jumlah hari sang pasien melakukan rawat inap dirumah sakit. Nah kembali lagi berdasarkan data dari beberapa klien kami bahwa jumlah hari untuk kasus diatas berkisar antara 10 hingga 20 hari, bisa anda bayangkan berapa dana yang diperlukan? Amat besar tentunya. Lalu bagaimana dengan penyakit lain? Kanker, paru-paru dan yang lainnya? Nah sekali lagi memang ternyata belum ada acuan yang pas untuk memperkirakan biaya kesehatan.

Harus Objektif
Berdasarkan fakta tersebut maka mutlak dibutuhkan persiapan biaya kesehatan secara optimal khususnya biaya pada saat kita beada diusia produktif maupun ketika kita memasuki usia pensiun. Untuk itu marilah kita persiapkan secara objektif, dalam hal ini jangan mudah terpengaruh oleh bujuk rayu agen penjual.

Berikut adalah kiat-kiat untuk mempersiapkan biaya kesehatan:
Biaya kesehatan harus dipersiapkan jauh sebelum penyakit datang, lebih awal lebih baik! Siapkan sejak anda mulai bekerja. Mengapa? Karena biaya ini jika tidak terpakai secara signifikan dapat merupakan cadangan biaya kesehatan anda dengan jumlah yang cukup besar pada saat anda memasuki usia pensiun kelak di umur 55 tahun. Jadi jangan terlambat dalam hal mempersiapkan biaya kesehatan.

Berbicara biaya kesehatan pada usia kerja atau usia produktif, ada dua hal yang harus anda perhatikan, pertama anda mutlak memiliki asuransi kesehatan (melakukan transfer resiko jika terjadi sakit dan rawat inap) dan kedua anda wajib melakukan investasi kesehatan dalam bentuk reksa dana untuk persiapan menutupi kekurangan dari asuransi kesehatan jika terjadi rawat inap.

Adapun konsep dasar dalam mempersiapkan biaya kesehatan adalah:
1. Membeli asuransi kesehatan sebelum sakit, di usia yang masih muda;
2. Di usia muda, beli program asuransi kesehatan rawat inap denga premi yang paling rendah;
3. Masukan dana investasi kesehatan pada reksa dana dengan jumlah investasi yang harus meningkat setiap tahunnya, dimulai dengan angka peningkatan 10 persen pertahun.
Untuk lebih jelasnya biaya kesehatan dapat dipilah sesuai dengan usia sebagai berikut:

• Kisaran usia produktif awal yakni: 21 hingga 30 tahun maka:
1. Pilih asuransi kesehatan rawat inap dengan premi termurah, anda tidak dianjurkan membeli perlindungan tambahan untuk asuransi penyakit kritis. Mengapa demikian?, karena asuransi penyakit kritis ini memiliki besaran premi tambahan yang tidak sedikit. Untuk kisaran usia ini kemungkinan rawat inap di rumah sakit sangat kecil, kecuali bagi mereka yang mempunyai penyakit bawaan atapun turunan dari keluarga, misalkan penyakit asma, diabetes, dll. Perlu dicatat bahwa untuk penyakit tertentu yang bersifat bawaan dari keluarga biasanya asuransi kesehatan memerlukan periode waktu tertentu untuk dapat mengcovernya, misalkan 6 bulan hingga 1 tahun sejak polis asuransi terbit;

2. Lakukan investasi untuk kesehatan yang bersifat tambahan pada reksa dana (diluar asuransi kesehatan). Berapa besarnya? Untuk usia 21 s/d 30 tahun dapat dimulai dengan Rp 150.000 hingga Rp 250.000  setiap bulannya dan lakukan peningkatan investasi sebesar 10 persen pertahunnya. Jika ini anda lakukan, dengan asumsi yield reksa dana 15 persen pertahun maka:
a. Dalam kurun waktu 5 tahun dana berada dalam kisaran Rp 15,7 juta hingga Rp 26,2 juta
b. Dalam kurun waktu 10 tahun dana berada dalam kisaran Rp 58,6 juta hingga Rp 97,7 juta
c. Dalam kurun waktu 25 tahun dana berada dalam kisaran Rp 975,7 juta hingga Rp 1,6 milyar

3. Jika anda telah memiliki jaminan kesehatan atau asuransi kesehatan untuk rawat inap dari perusahaan maka anda tidak perlu mempersiapkan asuransi kesehatan tambahan.;

4. Pengecualian bagi yang memiliki penyakit bawaan keluarga semisal diabetes, paru-paru dsb., dapat membeli asuransi jiwa yang memiliki program terminal illness, mengenai ini silahkan baca artikel ini hingga selesai, akan dijelaskan nanti.

• Kisaran usia produktif 31 hingga 40 tahun
1. Anda tetap disarankan untuk melanjutkan program asuransi kesehatan yang telah ada dengan proteksi rawat inap sedikit lebih mahal, mengapa? Karena pada kisaran ini peluang anda sakit dan dirawat di rumah sakit adalah lebih besar jika dibandingkan dengan periode usia sebelumnya.

2. Besar investasi untuk kesehatan pada reksa dana berada dalam kisaran Rp 400.000 hingga Rp 650.000 setiap bulannya. Peningkatan investasi tetap sebesar 10 persen setiap tahun, dengan demikian:
a. Dalam kurun waktu 5 tahun pertumbuhan dana akan bertambah berada dalam kisaran Rp 42 juta hingga Rp 68,3 juta;
b. Dalam kurun waktu 10 tahun maka pertumbuhan dana terus bertambah berada dalam kisaran Rp 156 juta hingga Rp 254 juta;

3. Jika anda telah memiliki jaminan kesehatan dari perusahaan, maka anda tetap tidak disarankan untuk membeli asuransi kesehatan tambahan;

4. Yang anda perlukan hanyalah penambahan investasi kesehatan pada reksa dana (jika keuangan memungkinkan tentunya);

5. Namun bagi yang memiliki penyakit bawaan anda tetap dianjurkan untuk menjalankan sesuai dengan pengecualian butir 4 (kisaran usia 21 hingga 30 tahun) diatas.

• Kisaran usia produktif 41 hingga 55 tahun
1. Anda wajib untuk melanjutkan program asuransi kesehatan yang telah ada dengan proteksi rawat inap minimal pada kelas menengah, mengapa? Karena pada kisaran ini peluang anda sakit dan dirawat di rumah sakit adalah lebih besar jika dibandingkan dengan periode usia sebelumnya.

2. Besar investasi kesehatan pada reksa dana berada dalam kisaran Rp 1 juta hingga Rp 1,6 juta setiap bulannya. Peningkatan investasi cukup sebesar 7 persen setiap tahun, mengapa demikian? Karena kami berasumsi dana kesehatan sudah terbentuk pada periode sebelumnya.

3. Jika anda telah memiliki jaminan kesehatan dari perusahaan, maka pada periode usia ini anda boleh untuk membeli asuransi kesehatan tambahan, dengan catatan tanyakan pada perusahaan asuransi yang baru apakah klaim dapat terbayar 100 persen meskipun telah memiliki asuransi kesehatan yang lain.

4. Anda dapat mempertimbangkan untuk membeli asuransi penyakit kritis. Pada umumnya jenis asuransi ini dapat anda tempelkan atau tambahkan di asuransi jiwa. Berbicara asuransi jiwa anda juga dapat memilih produk yang memiliki terminal illness yakni sebuah program untuk uang pertanggungan yang akan dibayar ketika tertanggung mengalami sakit yang menurut medis peluang hidupnya tidak lebih dari 12 (dua belas) bulan. Dalam kondisi itu sebagian uang pertanggungan akan dibayarkan meski tertanggung masih hidup. Uang dari asuransi ini pun dapat digunakan untuk biaya kesehatan tentunya. Sebagai informasi diantara kedua jenis asuransi penyakit kritis dibandingkan dengan asuransi terminal illness, besar premi yang termurah umumnya ada diasuransi terminal illness.

Demikian pembaca, pada dasarnya kita mutlak untuk memilah produk asuransi kesehatan dan asuransi jiwa yang sesuai dengan usia kita agar kelak pada saat pensiun kita tetap memiliki dana kesehatan yang cukup besar karena pada usia tersebut justru dana kesehatan amat dibutuhkan. Jadi hindari over invest pada usia produktif dengan salah membeli asuransi kesehatan yang sesungguhnya tidak begitu diperlukan pada usia muda.

(sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/02/14/07082337/Mempersiapkan.Biaya.Kesehatan.Secara.Optimal)

"Cash is The King"


Pernah mendengar istilah cash is the king alias punya uang tunai adalah raja? Saya asumsikan Anda pernah dengar atau tahu istilah tersebut. Makna utama dari istilah ini adalah ketika Anda memiliki cukup uang kas, Anda akan memiliki fleksibilitas dan kemudahan dalam hal keuangan.
Berikut ini beberapa keutamaan memiliki uang kas, antara lain:
1. Kebutuhan jangka pendek
Memiliki sejumlah uang kas membantu Anda untuk menjalani kebutuhan sehari-hari. Mulai dari kebutuhan belanja, beli bensin, bayar listrik, uang sekolah, uang jajan, hingga membayar sumbangan. Semua ini merupakan kebutuhan yang perlu dibayar tunai dan jangan sekali-kali berpikir untuk menggunakan kartu kredit yang ujung-ujungnya Anda harus membayar biaya lebih akibat terkena bunga pinjaman. Ini merupakan kebutuhan yang perlu disisihkan dari pendapatan Anda dan sudah pasti terjadi setiap bulannya.

2. Dana daruratPersiapan dana tunai atau uang kas ketika hal-hal terjadi di luar kebiasaan adalah mutlak diperlukan dalam kehidupan kita. Kita mungkin menghadapi suatu kondisi di mana kita mendadak kehilangan pekerjaan dan perlu waktu untuk mencari penggantinya. Kondisi lainnya yang mungkin terjadi adalah apabila salah satu sanak saudara tertimpa musibah dan sangat memerlukan bantuan keuangan dalam jumlah besar.
Jangan sampai ketika kondisi tersebut datang, Anda menjadi kalang kabut dan berpikir untuk menjual aset Anda. Hal ini merupakan sebagian opsi, tetapi sebaiknya merupakan opsi terakhir. Apabila Anda memiliki dana darurat, Anda tidak akan kehilangan aset dan tidak mengalami potensi kerugian atas penjualan aset tersebut. Dana darurat setidaknya melepaskan Anda dari masalah keuangan di tahap awal dan memberikan kesempatan bagi Anda untuk bertindak rasional tanpa merusak tatanan rencana keuangan Anda yang sudah dibangun.

Kedua poin di atas merupakan hal mutlak dari keutamaan memiliki uang kas di dalam perencanaan keuangan. Pada poin selanjutnya, saya berkeinginan untuk menjabarkan lebih mendalam berkaitan dengan keutamaan memiliki uang kas. Menurut saya, hal ini perlu juga menjadi pertimbangan Anda. Poin nomor 3 adalah:

3. KesempatanAda kondisi atau suatu masa di mana Anda menemukan sebuah kesempatan untuk berinvestasi, tetapi kesempatan tersebut terlewati karena Anda sama sekali tidak memiliki uang kas untuk berpartisipasi. Anda mungkin berpikir memang ada ya kondisi seperti itu? Jawabannya: Ada...!

Seorang konglomerat di Indonesia pernah berkomentar dalam sebuah seminar yang pernah saya ikuti pada akhir tahun 2008, ketika itu IHSG terpuruk jatuh di kisaran 1.000. Ia berkata, "….saat ini banyak sekali berlian berserakan di jalan dan tidak ada satu pun yang mau mengambil atau membelinya. Alasannya ada dua: pertama takut dan kedua tidak punya uang kas untuk mengambil kesempatan tersebut."
Mau bukti? Perhatikan harga saham-saham blue chips ketika masa itu. Bandingkan harga saham tersebut pada tahun 2008 dengan harga pada tahun 2012. Saya ambil contoh: sebuah saham otomotif terbesar di Indonesia,  ketika akhir Oktober 2008 jatuh hingga Rp 6.600 per lembar saham dan pada Januari 2012 pernah menginjak di harga tertinggi, yaitu Rp 79.000 per lembar saham. Bayangkan apabila Anda membeli saham tersebut dengan dana Rp 50 juta di harga terendah dan menjualnya di harga tertinggi, maka dana Anda akan menjadi Rp 598 juta. Wow… hampir 12 kali keuntungan Anda.
Satu contoh lagi: sebuah saham perbankan kita pada tahun 2008 pernah memiliki harga Rp 400 per lembar saham dan pada awal 2012 berharga sekitar Rp 4.000 per lembar saham, 10 kali lipat kenaikannya. Hmmm… menggiurkan bukan? Semuanya bisa Anda dapatkan apabila saat itu Anda memiliki uang kas.

Namun, hal tersebut tidak serta-merta bisa terjadi di semua pilihan saham. Terdapat pula saham yang stagnan dan tidak berkembang. Ilustrasi di atas adalah kondisi di mana semuanya berjalan dengan lancar dan pengetahuan maupun pengalaman mutlak diperlukan untuk itu.
Butuh riset dan keahlian mendalam dalam menentukan investasi. Jangan lupa pula bahwa investasi tidak hanya mencari keuntungan di jangka pendek, tetapi disesuaikan dengan tujuan finansial Anda. Tujuan ilustrasi tersebut adalah sekadar memberikan gambaran mengenai adanya kesempatan ketika Anda memiliki uang kas.
Oh ya… satu hal lagi, kesempatan ini tidak hanya berlaku pada saham, bisa berlaku pada kendaraan investasi lainnya juga, seperti properti, emas, obligasi, dan juga reksadana.

Pesan terakhirDalam tulisan terdahulu saya pernah menjabarkan bagaimana merencanakan investasi dan mengenal instrumen (kendaraan) investasi. Karakteristik dari kendaraan tersebut berbeda-beda dan disesuaikan dengan destinasi finansial yang dituju. So, tentukan dahulu tujuan finansial Anda baru kemudian pilih kendaraan untuk mencapainya.
Nah, dalam tulisan ini saya ingin menunjukkan bahwa memiliki dana tunai juga merupakan suatu hal yang utama dalam perencanaan investasi. Semenjak dulu dan hingga kini, memiliki uang kas merupakan salah satu kemungkinan kendaraan investasi teraman dan berguna bagi kita dalam menghadapi kondisi ekonomi yang tidak menentu… seperti saat ini.... Selamat berinvestasi dan sukses selalu untuk Anda.


(sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/06/22/07190857/.Cash.is.The.King)

Investasi Tanah, Rumah atau Apartemen?

Pembaca yang bijak, setelah artikel mengenai 5 Kiat agar Mahasiswa Mampu KPR, maka kini saatnya membahas secara garis besar mana yang lebih menguntungkan diantara investasi properti tanah, rumah atau apartemen?  Bagaimana formulasi tingkat pengembalian (return) didalam investasi properti tersebut? Faktor resiko apa yang mungkin terjadi dalam investasi tersebut?

Nah sebelum menjawabnya kami ingin sampaikan bahwa apa yang akan dijelaskan hanyalah secara garis besarnya saja, penulis memfokuskan pada sisi investasi yang bermuara pada peningkatan nilai pengembalian investasi. Adapun mengenai aspek legal khususnya undang-undang yang mengatur mengenai rumah susun tidak dibahas dalam artikel ini. Artikel ini semata mata hanya untuk membuka wawasan bagi para calon investor perorangan di bidang properti.

Selanjutnya bagaimana kita memilih investasi yang kita lakukan sebaiknya di tanah, rumah atau apartemen?
Sebelum menjawabnya ada baiknya kita pahami dulu rumus atau formula dalam sebuah investasi. Investasi dalam bidang apapun tentu mengharapkan tingkat pengembalian atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah return. Faktanya return dapat menjadi positif alias untung atau chuan maupun ada kemungkinan menjadi negatif alias rugi atau amsiaw. Mengapa demikian? Berikut formula dari return:

R = Income + Capital (jika + menjadi capital gain; jika – menjadi capital loss)

Nah sebagai contoh, dari formula diatas (jika) income hanya sebesar positif (+) Rp 1.000 sedangkan capital menjadi negatif  (-) Rp 1.500 maka akumulasi return menjadi negative (-) Rp 500 atau dengan kata lain investor rugi Rp 500.
Selanjutnya dalam bisnis properti kita tinggal memilah-milah mana yang berpotensi sebagai income dan mana yang berpotensi sebagai capital, nah untuk lebih jelasnya slikahkan simak tabel berikut:

Tabel Investasi Properti
Objek
Income (Pendapatan tambahan)
Potensi terjadinya income
Capital gain (Peningkatan modal / harga)
Potensi capital gain
Anjuran Investasi (holding period)
Tanah
Harga sewa / kontrak, kost2an, dll
Kecil
Kenaikan harga per M2
besar
> 5 tahun
Rumah
Sedang
sedang
> 3 tahun
Apartemen
Besar
kecil
< 3 tahun

Analisa :
1. Tanah
a. Return yang cukup besar, ini bisa didapat dari data rata-rata kenaikan tanah (disekitar Jakarta) dalam hal ini Cibubur, Depok dan Serpong pertahun dalam kisaran 15 persen s/d 30 persen tentu tergantung lokasi dan infrastruktur disekitarnya;
b. Biaya perwatan relatif sangat rendah;
c. Tidak perlu diasuransi, relatif aman karena tidak bisa terbakar.
d. Sulit untuk mendapatkan income tambahan dlm bentuk sewa, dll;
e. Lebih sulit dijadikan jaminan utang di Bank jika dibandingkan dengan rumah;
f. Semakin luas, semakin tidak likuid karena sulit mencari pembeli yang memiliki banyak uang.

2. Rumah
 a. Return yang sedang, namun tetap menjanjikan. Meskipun harga permeter persegi lebih mahal sekitar + 5 persen hingga 10 persen dari harga tanah, namun kenaikan harga pertahun masih dibawah kenaikan harga tanah. Kenaikan harga berada dalam kisaran 10 persen hingga 25 persen
b. Lebih likuid dari pada tanah karena mayoritas orang lebih suka membeli rumah dari pada membeli tanah;
c. Lebih mudah untuk dijadikan jaminan utang di Bank;
d. Kemungkinan mendapatkan income tambahan sedang karena bisa disewakan.
e. Nilai ekonomis bangunan terus menyusut setiap tahunnya, biasanya sebesar 10 persen penyusutan pertahun;
f. Dengan adanya bangunan maka pembayaran Pajak (PBB) menjadi lebih mahal jika dibanding dengan tanah;
g. Perlu diasuransikan terhadap kemungkinan kebakaran.

3. Apartemen
a. Return yang kecil, hal ini disebabkan karena adanya nilai susut dari bangunan apartemen yang cukup besar yakni sekitar 20 persen pertahun;
b. Cukup likuid karena orang masih mencari apartemen yang pada umumnya berlokasi strategis. Sedangkan jika membeli rumah pada lokasi strategis memerlukan jumlah uang yang lebih besar. Meskipun harga apartemen per M2 cukup mahal, namun masih lebih sedikit dana yang dikeluarkan karena luasan partemen yang relatif kecil;
c. Jika dijadikan jaminan di Bank, nilai taksasi dibawah rumah;
d. Umumnya income tambahan cukup besar;
e. Biaya rutin seperti listrik dan perawatan relatif mahal karena dihitung dengan mengikut sertakan fasilitas bersama atau fasilitas umum;
f. Tidak dapat merenovasi sesuka hati, hanya terbatas pada interior;
g. Sering terjadi masalah yang terkait dengan unit milik orang lain, misalkan kebocoran kamar mandi atau pipa pembuangan air milik orang lain yang mengakibatkan unit yang kita miliki harus di perbaiki.
Dengan demikian anda dapat memilih serta memilah investasi properti apa yang paling cocok dengan anda.

(sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/04/16/08581383/Investasi.Tanah.Rumah.atau.Apartemen)

5 Kiat agar Mahasiswa Kelak Mampu KPR

"Waktu adalah uang". Demikian ungkapan yang sudah akrab di telinga kita. Ya, memang semakin lama waktu yang ditempuh, semakin mahal pula biaya yang dikeluarkan. Artikel kali ini kami fokuskan kepada mereka para mahasiswa di Indonesia bahwa selain target kelulusan dan gelar akademis yang harus dicapai, alangkah bijaknya jika mahasiswa mulai berpikir untuk melakukan investasi agar dapat memiliki rumah jika kelak telah lulus dan mulai bekerja.

Mengapa ini menjadi begitu penting? Fakta menunjukkan bahwa mereka yang telah bekerja pun sangat banyak yang masih tinggal di "Taman Mertua Indah" atau di rumah kontrakan, alias belum memiliki rumah. Ironisnya, para sarjana pun masih belum bekerja secara jelas, banyak di atara mereka masih bekerja serabutan, dan pemasukan yang diterima masih belum stabil alias rentan untuk disebut sebagai pengangguran terselubung.

Lalu pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita mencapainya? Bagaimana kita dapat memiliki rumah jika kelak kita sudah bekerja maksimal selama 5 tahun setelah lulus? Berikut adalah 5 kiat sederhana agar kelak mahasiswa dapat memiliki rumah dengan cara kredit pemilikan rumah (KPR):

1. Mulai alokasikan dana dari diri sendiri
Layaknya belajar, tidak ada yang dapat mengatur hasil dengan optimal selain diri sendiri, maka demikian pula dalam ilmu perencanaan keuangan. Lakukanlah alokasi dana bulanan Anda, pisahkan kebutuhan perkuliahan dan non-perkuliahan. Berikut saran berdasarkan kebutuhan:
• Tempatkan dalam pos dana perkuliahan sebagai prioritas kebutuhan (termasuk uang buku dan uang transpor dasar);
• Tempatkan pos dana non-perkuliahan untuk kepemilikan rumah sebagai prioritas berikutnya setelah pos dana perkuliahan, dan makan pokok tentunya. Sementara itu, kebutuhan yang bersifat hiburan ditempatkan setelah alokasi dana kepemilikan rumah.

2. Mulai mencari penghasilan tambahanBerapa pun besar uang saku yang diterima tiap bulan dari keluarga, alangkah baiknya jika Anda juga mulai belajar mendapatkan pekerjaan tambahan yang bersifat paruh waktu. Pekerjaan ini dapat dibagi menjadi pekerjaan yang menunjang kuliah, atau yang tidak terkait dengan mata kuliah yang ada. Yang paling penting adalah waktu untuk bekerja tidak boleh menyita waktu belajar! Ingat, tugas utama seorang mahasiswa adalah belajar. Bekerja hanyalah sebagai tambahan.

3. Lakukan perhitungan nilai rumah masa depan (future value)Berpikirlah secara realistis, tentukan kisaran harga rumah yang diminati (jangan terlalu mahal), kemudian hitungalah harga rumah tersebut di masa mendatang (tentu lebih mahal dari sekarang). Marilah kita hitung dengan rumus:
FV = PV * (1 + i)^n
FV : harga rumah sekarang
PV : harga rumah mendatang
i : faktor kenaikan harga rumah (misalnya 10 persen-20 persen per tahun)
n : waktu yang tersedia untuk memiliki rumah, misalkan lama kuliah 3 tahun, ingin memiliki rumah 3 tahun setelah lulus, maka nilai 'n' menjadi 6 tahun

4. Mulai merencanakan pembelianRencanakan kapan Anda ingin memiliki rumah? Maksimal, 5 tahun setelah Anda mulai bekerja atau setelah lulus S-1 (mana yang lebih cepat).

5. Mulai melakukan investasiSebesar apa pun rencana kepemilikan rumah yang Anda idamkan kelak pasti tidak akan terwujud tanpa adanya investasi. Lakukan dari sekarang dengan melakukan investasi pada reksa dana saham. Target return reksa dana saham per tahun dapat Anda hitung dengan asumsi 20 persen.
Untuk mengetahui berapa besar dana yang harus disisihkan, silakan lihat tabel di bawah ini:
Harga rumah kelak
Uang muka KPR, dll
Besar uang muka, dll
Waktu tersedia
Dana yg disisihkan
 
 
Kuliah S-1
Maks. bekerja setelah lulus
Per hari
Per bulan
 
 Rp          350.000.000
30%
 Rp          105.000.000
3 Thn
5 Thn
 Rp       (14.757)
 Rp        (442.708)
 
 Rp          500.000.000
30%
 Rp          150.000.000
3 Thn
5 Thn
 Rp       (21.081)
 Rp        (632.439)
 
 Rp      1.000.000.000
30%
 Rp          300.000.000
3 Thn
5 Thn
 Rp       (42.163)
 Rp    (1.264.879)
 


Demikian para mahasiswa dan calon mahasiswa, dengan menyisihkan minimum Rp 15.757 hingga Rp 42.163 per hari, maka Anda dapat memiliki rumah melalui KPR dengan harga Rp 350 juta hingga Rp 1 milar. Sebuah investasi yang sangat bermakna bukan? Selamat berinvestasi bagi Anda para mahasiswa dan calon mahasiswa. Sukses untuk kita semua.

(sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/03/20/09553221/5.Kiat.agar.Mahasiswa.Kelak.Mampu.KPR)